Minggu, 05 Juni 2016

Alasan Mengapa Kita Dibebankan dengan Laten Komunis



Berbicara komunisme di Indonesia, maka erat kaitannya dengan Partai Komunis Indonesia. PKI sampai sekarang dianggap hantu menakutkan di indonesia yang patut diberangus. PKI yang pernah eksis dan diakui resmi sebagai partai politik, muncul setelah indonesia merdeka berdasar Maklumat X tentang pendirian partai-partai politik oleh Muhammad Hatta pada oktober 1945. Walaupun paham komunisme sebenarnya sudah diusung oleh pengikutnya jauh sebelum indonesia merdeka. Pada pemilu pertama Indonesia tahun 1955, PKI memperoleh urutan keempat setelah Partai Nasional Indonesia, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama.
Dua kali Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan besar di Indonesia. Pertama pemberontakan pada tahun 1948 di Madiun Jawa Timur. Dan yang kedua pemberontakan pada tahun 1965.
Pemberontakan yang dilakukan oleh PKI memiliki target mendirikan negara komunis di Indonesia. Dalam buku saku tentang ABC Revolusi yang ditulis oleh CC (Comite Central) PKI pada tahun 1957, merinci tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI tentang negara komunis di Indonesia.
Pemberontakan PKI memanfaatkan situasi politik yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 1948, PKI memanfaatkan kondisi indonesia yang sedang menghadapi Agresi Militer Belanda 1 tahun 1947.

Pada pemberontakan tahun1965, PKI memanfaatkan situasi Indonesia yang sedang melakukan konfrontasi dengan Malaysia.
Dalam buku Memoir on The Formation of Malaysia, karya Ghazali Shafie terbitan Universiti Kebangsaan Malaysia, menunjukkan kaitan erat jonfrontasi Indonesia-Malaysia dengan PKI. Di dalam buku tersebut dijelaskan mengapa Bung Karno tidak menghadiri persidangan puncak dengan Tengku Abdul Rachman di Tokyo pada tahun 1963, karena PKI tidak suka dengan pertemuan itu. Oleh karena itu, bisa dibaca bahwa konfrontasi Indonesia-Malaysia itu bukan sekedar demo anti-Indonesia atau demo anti-Malaysia, Ganyang Malaysia, melainkan PKI merancang konfrontasi itu agar rencana besar (negara komunis) tidak “terbaca”. Apalagi Bung Karno melontarkan gagasan nasionalis, agama, dan komunis yang justru “melindungi” gerakan PKI.
PKI kemudian dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat. Berdasarkan ketetapan MPRS bernomor XXV/MPRS/1966, tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi PKI, dan Larangan Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme, pemerintah telah membubarkan PKI.
Dalam pertimbangan Tap MPRS yang ditanda tangani Ketua MPRS Jenderal TNI AH Nasution tersebut, tercantum 3 poin. Saru, paham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme pada hakikatnya bertentangan dengan Pancasila. Dua, orang-orang dan golongan-golongan di Indonesia yang menganut paham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme, khususnya PKI, dalam sejarah kemerdekaan RI, telah nyata terbukti beberapa kali berusaha merobohkan kekuasaan pemerintahan RI yang sah dengan jalan kekerasan. Tiga, perlu mengambil tindakan tegas terhadap PKI dan kegiatan-kegiatan penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme.
Bila kini ajaran komunisme semakin marak. Simbol-simbol komunisme betebaran di mana-mana. Maka kewaspadaan masyarakat harus semakin meningkat, mengingat sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak pernah mati. Mereka hanya dormant, dan menunggu saat yang tepat untuk kembali memprovokasi masyarakat demi mewujudkan cita-cita mereka yang belum tercapai, yakni mendirikan negara komunisme di Indonesia. Dan korban keganasan PKI selama beberapa kali aksinya adalah umat islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar